Connect with us

Dua Single 5678things Dirilis Saat Record Store Day 2018 Chapter Purwokerto

news

Dua Single 5678things Dirilis Saat Record Store Day 2018 Chapter Purwokerto

Dua Single 5678things Dirilis Saat Record Store Day 2018 Chapter Purwokerto

PURWOKERTO, acarakita.net – Kabar baik datang dari skena indiepop Purwokerto, pasalnya saat gelaran Record Store Day 2018 terdapat band bernuansa cerita dengan aroma twee dan sedikit jazzy bernama 5678things merilis dua single secara langsung. Hal tersebut membuat aroma kejayaan skena indiepop yang pernah berjaya di Purwokerto kembali tercium.

Band yang beranggotakan Ilham pada gitar, Alve pada vokal, Ian pada bass, dan El pada drum mulai berani menampilkan kembali jenis musik tersebut yang berawal dari sebuah jamming di kamar kost yang berujung pada langkah serius setelah menemukan persamaan selera dan visi serupa.

“Kami terbentuk belum lama, baru pada 2017 lalu yang akhirnya ada kecocokan satu sama lain dan diseriusin untuk memberikan warna musik di Purwokerto dan sekitarnya,” kata Alve dari press release yang diterima acarakita.net, Minggu (22/4/2018) malam.

Dua single dari 5678things tersebut berjudul Oh, Hello yang bercerita tentang patah hati namun diramu dengan lirik sederhana dan nuansa lagu yang cerita. Begitu juga dengan single keduanya berjudul Sial yang mempunyai garis besar serupa yang memadukan kisah duka dengan pemilihan chord dan nuansa cerita.

Kedua single tersebut nantinya akan direkam ulang dan dipublikasikan oleh Heartcorner Records yang digandeng sebagai rekan kerjasama untuk kemudian dimasukkan kedalam mini album mereka dalam waktu dekat.

Seperti diketahui, Purwokerto pernah mengalami masa kejayaan skena indiepop pada era 2005 hingga 2012 lalu. Beberapa nama yang pernah mengharumkan nama Purwokerto kala itu antara lain ada Tunas Bangsa Simphony (tweepop), The Telephone (rock/shoegaze style), The Jumping Balloons (tweepop), Pagi Yang Indah (dance/indierock), Where Are You My Band (garage), Nocturnal Conspiracy (indierock), The Harrison (garage), Morissa (indierock), Golden Ink (indierock).

Tolak ukur kejayaan yang disebut disini adalah ketika nama-nama diatas berhasil menginfeksi kegiatan musik di Purwokerto tanpa pandang bulu, dari gigs rembol kelas kroco, kegiatan seni ala kampus, hingga panggung besar besutan event organizer yang menjadi perpanjangan tangan para principal.

Serta tak lupa monumen sejarah yang sudah berhasil dibangun oleh masing-masing band pada tingkatan antar skena di Indonesia pada masa itu. Surutnya geliat pegiat musik indiepop mulai berasa pada sekitar tahun 2013, dengan vakumnya nama-nama diatas dengan berbagai alasan, dari faktor pekerjaan hingga pendidikan, yang mengharuskan mereka meninggalkan hingar bingar skena musik secara perlahan.

Bahkan ketika pada tahun 2014, Willy Wonka mencoba mendobrak dengan nuansa baru, dengan harapan memunculkan tunas baru pegiat indiepop, usaha mereka harus berakhir 3 tahun kemudian.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

More in news

Advertisement

To Top
Chat Me!