Connect with us

Gie Rilis Album Bertajuk Kamar Malas

news

Gie Rilis Album Bertajuk Kamar Malas

Gie Rilis Album Bertajuk Kamar Malas

YOGYAKARTA, acarakita.net – Band asal Yogyakarta bernama Gie akan merilis album bertajuk Kamar Malas di Lab Karawitan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Jumat (23/2/2018) ini. Yang menarik dalam konser ini yakni HTM bebas untuk memberikan kesempatan pengunjung menentukan tingkat apresiasi terhadap suatu karya.

“Jadi disini pengunjung yang datang ke konser peluncuran album kami diberi kebebasan, seberapa mereka mengapresiasi musik kami pada khususnya dan seluruh karya musik pada umumnya,” kata personil Gie, Wimar Yulius dari press release yang diterima acarakita.net belum lama ini.

Perjalanan bermusik Gie tidaklah singkat, bermusik sejak 2013 membuat kreativitas Wimar, Gatra, Kaka, Shinjoe, dan Abe semakin tajam hingga akhirnya merilis debut album setelah setahun sebelumnya dibuka dengan single Tetaplah Disini.

Untuk album bertajuk Kamar Malas, Gie menyuguhkan 10 track diantaranya Tetaplah Disini, Jarak, Jam Pasir, dan beberapa lagu lain termasuk lagu berbahasa Inggris. Berisikan karya yang seluruhnya baru, Gie percaya diri bahwa album penuh pertama mereka ini membawa nyawa yang lebih kuat dibandingkan dengan EP Kopi Blues dan single Belum Habis.

Terciptanya album kali ini, diakui Wimar tidak pernah direncanakan, tapi bukan juga sebuah kebetulan. Karena tajuk Kamar Malas sendiri diambil dari salah satu lagu yang ada di album ini dengan judul sama. Hal ini sama dengan tajuk EP Gie sebelumnya yang diambil dari salah satu judul lagu di dalamnya.

Memilih tajuk album Kamar Malas diakui Wimar tidaklah mudak karena harus berusaha melawan gagasan besar tentang moral yang dipelihara orang pada umumnya, utamanya pada kata malas yang mereka gunakan. “Kamar Malas ini adalah sebuah ruang lahirnya karya dan menguapnya keresahan,” ujarnya.

Album yang dikerjakan kurang lebih 1 tahun ini melibatkan banyak pihak, antara lain Sandi Gilang yang dipercaya sebagai music director, Redy Afrians sebagai mixing/mastering engineer, studio musik Jogja Audio School, rumahrekam, dan Footprints Studio, serta Netrilis untuk persebaran digital, dan untuk cover album sendiri dikerjakan oleh Regga Hendarto yang berkolabirasi dengan INVCsturio.

Layaknya manusia pada umumnya, ada idealisme yang menaungi perjalanan musik dan karya-karya Gie. Mereka mengaku tidak ada sekat dan batasan harus begini atau tidak boleh begitu. “Kami tidak membuat karya yang selamanya bernegosiasi dengan kuping populer. Yang terjadi justru sebaliknya, proses negosiasi itu kami berikan dalam ruang interpretasi mereka yang mendengarkan karya kami,” katanya.

Kamar Malas ini juga merupakan ujian dan perjudian tersendiri bagi Gie dimana kali ini mereka membawa gagasan baru mengenai karya musik digital. Menurut Wimar, Gie memiliki ketertarikan mendalam terhadap tantangan, terutama gagasan mengenai metode persebaran musik yang terus berkembang.

Untuk itulah Gie kali ini tidak menyertakan cakram padat CD yang sudah konvensional digunakan oleh musisi lain dan menggantinya dengan medium berupa QR Code. “Kalian tidak perlu khawatir menyoal perubahan ini karena kami meyakini bahwa ini justru memudahkan. Daripada nge-rip CD, kami tawarkan  kesempatan untuk langsung melakukan download musik kami lewat QR Code yang dilengkapi backlink tersebut,” ujarnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

More in news

Advertisement

To Top
Chat Me!