Connect with us

Ngadhang Sore, Kolaborasi Apik Pegiat Seni Purbalingga

review

Ngadhang Sore, Kolaborasi Apik Pegiat Seni Purbalingga

Ngadhang Sore, Kolaborasi Apik Pegiat Seni Purbalingga

PURBALINGGA, acarakita.net – Gelaran bertajuk ‘Ngadhang Sore’ kembali terselenggara di Alun-alun Purbalingga, Sabtu (9/6/2018) malam untuk menghibur masyarakat Purbalingga. Panggung terbuka yang cukup megah pun berdiri di sisi utara tepat di seberang pintu gerbang Pendopo Dipokusumo menghadap selatan.

Diatas panggung, tersusun puluhan kursi dan cukup banyak orang berkerumunan disekitar panggung.”Awalnya acara ini terselenggara menjelang waktu berbuka yang secara tradisi disebut ngadhang sore,” kata salah satu pegiat acara, Canggih Vocalista atau yang biasa disapa Ichank kepada acarakita.net belum lama ini.

Pimpinan dari Harmoni Kerontjong Moeda ini menyebutkan, event Ngadhang Sore kali ini merupakan tahun ketiga gagasan dari Dewan Kesenian Purbalingga yang saat itu dipimpin oleh Haryono Soekiran (Alm) yang menggandeng Harmoni Kerontjong Moeda. “Yang beda tahun ini sekaligus untuk memperingati 100 hari wafatnya almarhum,” ujarnya.

Yang unik dari event ini adalah warga masyarakat disuguhi dengan berbagai konten pertunjukan dengan sajian utama adalah live musik yang menampilkan lagu kekinian dengan kemasan bentuk musik keroncong. Untuk gelaran kali ini, Ngadhang Sore menyajikan kolaborasi antara keroncong dari Harmoni Kerontjong Moeda (HKM) dengan orkestra dari Banyumas Raya Orchestra yang berisi musisi muda dari wilayah Banyumas Raya.

Semakin istimewa dengan penampilan Trio G-String dalam line-up serta music director merangkap konduktor Ichank, serta duo host Ucil dan Eti Kristy. Tepat pukul 8.30 malam, rangkaian acara dimulai dengan penampilan solo oleh violinis muda, Nafisa, siswi kelas 4 MI Negeri 1 Banyumas. Setelahnya, baru acara dibuka dengan lantunan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Acara dilanjutkan pembacaan puisi karya Haryono Soekiran (Alm) oleh istri mendiang, Ibu Tiwi. Trio G-String menampilkan permainan gitar yang dipadukan dengan keroncong dan orchestra, sebelum kemudian masing-masing singer HKM yakni Tasya, Ike, Gada, dan Zahra membawakan beberapa tembang.

Ada pula pembacaan puisi oleh Lintang, Ryan Rahman, mas Cune, dan Bowo Bongkrek, serta penampilan monolog oleh Haryanto Soekiran yang merupakan saudara kembar mendiang Haryono Soekiran.

Setiap suguhan baik tembang, puisi maupun monolog yang diiringi musik kolaborasi keroncong dan orchestra ini menghembuskan suasana syahdu dan megah yang membuat audiens yang semakin malam semakin memadati venue seperti terbius dan enggan beranjak hingga berakhirnya acara menjelang pukul 12 malam.

Setidaknya Ngadhang Sore 2018 menunjukkan bahwa kehidupan berkesenian di daerah atau kota kecil seperti Purbalingga dan Banyumas pun memiliki keragaman dan kualitas.

Menilik antusiasme pengunjung pula, diharapkan event semacam ini dapat diadakan secara kontinyu, dan tentu saja terus ditingkatkan dengan melibatkan lebih banyak lagi seniman, sehingga tiap gelarannya selalu dapat menampilkan sesuatu yang fresh.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

More in review

Advertisement

To Top
Chat Me!