Connect with us

Ngayogjazz 2018 Kembali Digelar

news

Ngayogjazz 2018 Kembali Digelar

Photo by Mikael Ariyo

Ngayogjazz 2018 Kembali Digelar

YOGYAKARTA, acarakita.net – Gelaran bertajuk Ngayogjazz 2018 kembali digelar di Desa Gilangharjo, Pandak, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Sabtu (17/11/2018) dari pukul 10.00 hingga 23.00 WIB. Diperkirakan sekitar 40 pengisi dari dalam dan luar negeri akan tampil di 7 panggung yang sudah disediakan.

Acara yang sudah memasuki gelaran ke-12 ini menjadi inklusif baik sebagai produk musik maupun sebuah tontonan. Disini, jazz bisa ditonton oleh semua kalangan dan berbagai usia, juga bisa disaksikan di Ngayogjazz bagaimana jazz bisa melebur dan berinteraksi dengan jenis musik yang lain bahkan dengan seni apapapun baik yang tradisi maupun modern.

Board Creative dan Penggagas Ngayogjazz, Djaduk Ferianto mengatakan, Ngayogjazz bukan hanya sekedar sebuah tontonan tapi juga sebagai peristiwa budaya sekaligus media pembentuk masyarakat pendukung produk seni. “Ini juga berhasil menempatkan desa bukan hanya sebagai obyek, tetapi lebih dari itu,” katanya.

Masyarakat desa tempat diadakannya perhelatan Ngayogjazz, lanjutnya selalu menjadi mitra yang mutual. “Peran aktif warga desa selalu menjadi energi positif yang berimbas kepada pelaksaan Ngayogjazz yang konsisten hingga usia yang ke-12 ini,” ujarnya.

Tempat pelaksanaan Ngayogjazz yang selalu berpindah-pindah dilakukan supaya memberikan nuansa yang berbeda. Menggabungkan musik jazz dan suasana pedesaan memberikan warna tersendiri yang menjadi ciri khas penyelenggaran Ngayogjazz dan memberikan pengalaman yang berbeda yang selalu dinantikan para penggemarnya.

Seperti gelaran sebelum-sebelumnya yang selalu memiliki ciri khas nyleneh, termasuk tahun ini yang mengusung tema ‘Negara Mawa Tata, Jazz Mawa Cara’ sebagai jawaban atas fenomena yang terjadi dan berkembang di masyarakat Indonesia saat ini. Tema tersebut merupakan plesetan dari Desa Mawa Cara, Negara Mawa Tata.

“Maknanya kurang lebih Walaupun Negara mempunyai hukum dan tata Negara, namun tiap daerah juga memiliki adat dan budaya yang khas menurut mereka dan erat kaitannya dengan kearifan lokal daerah masing-masing,” kata Djaduk.

Dalam setiap penyelenggaraannya, Ngayogjazz selalu menggandeng masyarakat yang menjadi tuan rumah untuk turut serta dalam merayakan kemeriahan peristiwa budaya ini. Hal ini pun juga didasari dengan pandangan untuk pemberdayaan masyarakat tidak hanya dari segi ekonomi, tetapi lebih dari itu.

Bukan hanya pertunjukan musik jazz saja yang bisa dinikmati, ada pula penampilan menarik lainnya seperti kesenian tradisional yang ditampilkan oleh warga setempat. Ngayogjazz juga turut merangkul teman-teman komunitas untuk turut serta berpartisipasi, mulai dari komunitas jazz dari berbagai kota, komunitas seni, fotografi, bahkan otomotif ikut memeriahkan perayaan Ngayogjazz.

“Inilah jamming session a la Ngayogjazz yang melibatkan banyak pihak, baik panitia, masyarakat maupun komunitas untuk turut serta dalam menciptakan satu harmoni indah dalam keberagaman,” ujar dia.

Djaduk menambahkan, untuk perayaan Ngayogjazz 2018 ini semua pengunjung yang datang merasakan dan merayakan kemeriahannya diharapkan untuk membawa alat buku tulis ataupun buku cerita. “Nantinya semua buku ini akan dikumpulkan dan disumbangkan untuk saudara-saudara di tanah air yang membutuhkan,” katanya.

Untuk membuatnya semakin meriah dan semarak, Ngayogjazz menggandeng Froghouse untuk mengambil bagian dan berbagi pengetahuan dan pengalaman bersama Karang Taruna Gilangharjo dalam workshop artistik untuk menciptakan dekorasi dan hiasan untuk festival. Workshop yang terbuka untuk umum ini, menghasilkan berbagai dekorasi dan hiasan yang menggunakan bambu sebagai bahan dasarnya.

Dalam prosesnya, workshop ini melibatkan pasukan kodok dari Froghouse, Karang Taruna Gilangharjo, dan sedulur-sedulur yang tertarik dan hadir di Gilangharjo. Froghouse juga hadir bersama kolaborator seni, Situ(s)eni – terdiri dari 3 orang seniman berlatar belakang berbeda yakni Prihatmoko Moki (muralis), Annisa P Cinderakasih (arsitek) dan Wilujeng (penari), yang juga ikut ambil bagian memeriahkan Ngayogjazz 2018 dengan menghadirkan karya seni yang tersebar di beberapa titik yang berbeda di desa Gilangharjo dan semua karyanya terinspirasi dari situs seni yang ada di desa tersebut.

Secara keseluruhan, suasana seperti inilah yang kemudian membuat Ngayogjazz selalu diminati, tidak hanya oleh orang-orang yang tinggal di Yogyakarta saja tetapi juga dari luar daerah bahkan luar negeri. Lebih dari 30.000 pengunjung setiap tahunnya dari berbagai usia, bermacam tingkat sosial dan pendidikan, hingga berbagai kebangsaan hadir dan bergerak bersama Ngayogjazz menyebarkan kebahagiaan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

More in news

Advertisement

To Top
Chat Me!