Pentas Produksi Caya Harja Mahitala Berjalan Lancar

PURWOKERTO, acarakita.net – Kerajaan langit kacau dengan pertumpahan darah yang terjadi antara Dewa Bhadrika sang penguasa langit dengan sahabatnya Dewa Apta karena kecantikan Dewi Dahayu. Itulah salah satu scene yang ada dalam pertunjukan drama musikal Caya Harja Mahitala, Selasa (18/12/2018) malam di Gedung Soetedja Purwokerto.

Acara persembahan dari Bengkel Seni Pertanian (Bezper) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) ini menjadi pertunjukan hiburan pentas produksi angkatan baru Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bezper Unsoed. “Karena itulah tidak ada apresiasi saat akhir pertunjukan,” kata penulis naskah Caya Harja Mahitala, Sufiana Nur Qolbi.

Sufi menceritakan, judul Caya Harja Mahitala berarti pelindung kemakmuran bumi dimana pengambilan judul tersebut diambil dari kisah Dewi Sri yang merupakan dewi pertanian, dewi padi dan sawah, serta dewi kesuburan. Itu juga berasal dari keresahan bahwa berita hoax memang sudah menjamur dan tidak asing lagi bagi masyarakat.

Disitu juga orang yang tidak bersalah harus menanggung ketidakadilan yang disuarakan mengatasnamakan kebenaran. Hasrat akan menguasai diri manusia melawan atau mengikuti sesuai alurnya.

Dalam kisahnya, diawali dengan Gusti Ibu yang merupakan penguasa sorgalaka yang memberikan titah kepada utusannya, Dahayu untuk menyampaikan cihaya ke bumi karena rakyat begitu sengsara. Dahayu dengan senang hati menjalani tugasnya yang diantarkan Gurubalin yang juga merupakan utusan Gusti Ibu.

Sebelum diturunkan ke bumi, Dahayu terlebih dahulu diubah wujudnya menjadi sebuah telur sebagai lambang kehidupan yang baru, dan ditengah perjalanannya turun ke bumi terjatuhlah telur itu.

Dialam lain yakni di langit tertinggi yang dikuasai oleh Dewa Bhadrika sedang dibangun istana baru, penguasa langit tertinggi itu menitahkan bahwa siapa saja yang malas bekerja akan dipotonglah tangan dan kakinya. Yakni Dewa Anaga yang merupakan seekor ular yang tidak mempunyai kaki dan tangan bingung bila hukuman tersebut berlaku untuknya.

Anaga meminta nasihat kepada Dewa Apta dan muncul telur yang terjatuh dari sorgalaka, kemudian Anaga menyerahkan telur tersebut kepada Bhadrika dan menerimanya sekaligus memerintahkan Anaga untuk menetaskan.

Telur tersebut akhirnya menetas dan menjadi seorang bayi perempuan yang cantik jelita, kemudian diangkat menjadi anak oleh Dewa Bhadrika dan istrinya Dewi Paramesti. Dahayu tumbuh menjadi gadis cantik jelita yang memikat semua mata lelaki yang memandangnya, termasuk Dewa Bhadrika ayah angkatnya.

Dewa Apta yang sebagai sahabatnya Dewa Bhadrika tidak terima, karena bila hal tersebut dibiarkan maka akan merusak keselarasan rumah tangganya. Ia pun bersekongkol dengan para dewa untuk membunuh Dewi Dahayu yang menurutnya menjadi sumber masalah, dan keributan terjadi yang mengakibatkan Dewa Apta beserta dewa lainnya dan juga Dewi Dahayu terbunuh.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

advertisement





cari eventmu disini
× Chat Me!