Connect with us

Warga Pekuncen Diajak Perlakukan Sampah Dengan Bijak

news

Warga Pekuncen Diajak Perlakukan Sampah Dengan Bijak

Warga Pekuncen Diajak Perlakukan Sampah Dengan Bijak

BANYUMAS, acarakita.net – Sejumlah mahasiswa Universitas Wijayakusuma Purwokerto ditugaskan untuk melaksanakan tugas kampus Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang tahun ini para mahasiswa didapuk untuk melaksanakan tugasnya di seluruh desa di Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas. Kecamatan Pekuncen sendiri terdiri dari 16 desa yang tersebar di wilayah tersebut dan salah satu desa yang ditempati peserta KKN ialah desa Pekuncen dimana desa ini ditempati oleh posko 3. Desa Pekuncen terbagi menjadi 3 dusun yang keseluruhannya terdiri dari 9 RW dan 54 RT.

Desa ini merupakan desa yang paling luas diantara desa lain di Kecamatan Pekuncen. Mata pencaharian penduduknya kebanyakan adalah petani, dengan potensi dari sumber daya alamnya yang besar. Maka dari itu sangat diperlukan diadakannya sebuah program, dimana program tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan penduduknya yang diolah secara bijak, sehingga nantinya profit dari program tersebut dapat kembali kepada penduduk.

Berbanding lurus dengan tugas dari mahasiswa peserta KKN dimana mereka memiliki tujuan untuk membuat wilayah yang ditempati selama 33 hari menjadi lebih baik dengan memberdayakan masyarakat maupun potensi-potensi lokal. KKN tematik tahun ini mewajibkan tiga program kerja yaitu BUMDes, Bank Sampah, dan Tabungan PBB.

Dua dari ke tiga program tersebut diadakan kegiatan sosialisasi, yaitu BUMDes dan Bank Sampah pada Jumat (9/2/2018) di Balai Desa Pekuncen. Acara diselenggarakan pada Pukul 14.00 WIB dengan mendatangkan dua Narasumber, dari BUMDes sendiri akan diisi oleh Bapak Drajat Kuat Aminudin, Beliau adalah Direktur BUMDes di Beji.

Kemudian untuk Bank Sampah ada Samsu, dimana ia adalah Direktur Bank Sampah Arcawinangun yang diharapkan dengan kehadiran para narasumber yang sudah berkompeten juga sudah terbukti hasilnya, akan memotivasi masyarakat supaya tergerak hati dan pikiran agar nantinya mereka bisa menjalankan secara otonom program-program yang dicanangkan pemerintah lewat mahasiswa.

Acara yang pertama dimulai adalah sosialisasi Bank Sampah yang langsung diisi oleh Samsu, para warga Desa Pekuncen cukup antusias dengan kegiatan tersebut. Terbukti dengan mereka datang tepat waktu dan dari pembicara sendiri pernah menjadi pemantik dalam kegiatan pembekalan KKN UNWIKU beberapa waktu lalu bersamaan dengan Direktur BUMDes, Drajat sekitar Pukul 14.15 WIB.

Pemateri memulai pembicaraannya dengan menyinggung lingkungan tempat ia tinggal di perumahan Arcawinangun Purwokerto. “Masyarakat perumahan cenderung lebih memilih hidup yang praktis, disamping memiliki ‘ruang’ sendiri, alasan mempunyai uang yang cukup menjadi faktor masyarakat perumahan enggan untuk berkecimpung dengan sampah,” katanya.

Namun kini telah berbeda, di perumahan Arcawinangun Purwokerto ia telah mendirikan Bank Sampah bersama rekan-rekan sesamanya yang tidak ingin lingkungannya tercemari oleh sampah. Disamping itu pemerintah Banyumas sedang giat-giatnya menggalakan program 1000 bank sampah, sebagai antisipasi sekaligus solusi untuk mengurangi tampungan sampah yang semakin menggunung di Kaliori dalam beberapa tahun kedepan.

Tidak jauh berbeda dengan bank konvensional, bank sampah pun memiliki sirkulasi uang dimana nantinya uang tersebut dapat digunakan untuk kepentingan warga, juga dapat mengurangi beban hidup. Bank sampah secara teknis harus sudah melalui proses pemilahan jenis sampah yang sebelumnya telah dipilah dan dikategorikan menjadi sampah anorganik dan organik. Dari sampah organik bisa diolah menjadi pupuk yang nilai jualnya seharga Rp 2000 per kilo.

Pemerintah Daerah Banyumas khususnya sangat mengapresiasi adanya Bank Sampah, ia menambahkan jika Pemda bersedia untuk memfasilitasi kebutuhan dari Bank Sampah, asalkan Bank Sampah tersebut bukan milik pribadi. Untuk pupuk sendiri Pemerintah juga bersedia untuk membeli, contoh sederhana tadi merupakan gambaran jika sampah sebenarnya mengandung nominal yang tidak diketahui (Nilai jual tinggi), namun seringkali masyarakat dengan ringan membakar sampah-sampah mereka.

Hal tersebut sangat di sayangkan, selain akan menjadi polutan dan membuat orang-orang disekitar terganggu, melalui asap juga akan bersumbangsih pada proses pemanasan global. Untuk sampah, undang-undang telah mengaturnya dalam UU Nomor 18 tahun 2008 tentang sampah. Menuju pukul 17.00 WIB, Samsu mengakhiri sosialisasi tersebut yang kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi tentang BUMDes oleh Drajat pada pukul 20.00 WIB.

Berbeda dengan sosialisai Bank Sampah, kali ini dalam sosialisasi BUMDes, pemerintah desa pekuncen hanya mengundang nama-nama dalam kepengurusan BUMDes yang secara struktural sudah terbentuk. Mengingat potensi lokal baik itu dari Sumber Daya Alam nya maupun Sumber Daya Manusianya, Pemerintah Desa Pekuncen menginginkan untuk mengolah kedua hal tersebut menjadi suatu sinergitas yang baik demi kepentingan swadaya masyarakat desanya.

Untuk itu, pemerintah Desa Pekuncen sedang giat-giatnya membentuk BUMDes yang diawali dengan memberikan suatu pemahaman tentang BUMDes kepada pengurus-pengurusnya, agar supaya dalam kepengurusannya, BUMDes dapat berlangsung dengan baik dan maksimal sembari menunggu disahkannya RAPBD 2018 Desa Pekuncen.

Secara prinsip, sebelumnya BUMDes Pekuncen berbentuk Koperasi Simpan Pinjam (KSP). Perihal BUMDes, Pemerintah Desa Pekuncen ingin mempergunakan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) sebagai bagian dari BUMDes, supaya masyarakat yang kurang mampu dapat memilih bentuk bantuan yang diberikan oleh Pemerintah. Caranya dengan mendirikan sebuah toko dimana masyarakat yang kurang mampu akan diberikan sebuah kartu semacam ATM yang nantinya akan di proses di toko tersebut dan masyarakat kurang mampu dapat memilih sembako yang dibutuhkan selain beras.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in news

Advertisement
To Top