Keseruan Ngayogjazz Tahun Ke-12 Di Desa Gilangharjo

BANTUL, acarakita.net – Sebanyak 40 kelompok musik dan komunitas jazz yang terdiri ratusan musisi, dari tingkat lokal hingga internasional tampil meramaikan festival musik tahunan Ngayogjazz yang diselenggarakan di Dusun Kauman, Desa Gilangharjo Kabupaten Bantul, Sabtu siang (17/11) hingga tengah malam.

Pianis dan vokalis Indonesia, Nita Aartsen yang sudah melakukan konser di berbagai belahan dunia pun tampil memukau bersama Jean Sebastian Simonoviez dari Perancis pada saxophone, Mikele Montolli dari Italia pada bass, dan Ida Bagus Putu Bramanta dari Bali pada drum.

Mereka memainkan sejumlah lagu instrumental maupun vokal oleh Nita dan Simonoviez, diakhiri lagu Night And Day dengan vokal Nita. “Belum pada ngantuk kan ya? Nama saya Nita Aartsen, namanya sedikit bule tetapi saya orang Indonesia campur-campur. Senang sekali malam ini bisa tampil untuk kedua kalinya di Ngayogjazz yang kian meriah dengan musisi yang datang dari berbagai negara,” katanya dari atas panggung Kamituwa.

Para penonton rela duduk beralas tanah di antara banyak pohon pisang dan pohon mangga yang lebat buahnya di depan panggung Kamituwa, dengan latar belakang rumah Limasan milik Keluarga Sugito warga Dusun Kauman, Desa Gilangharjo. Sebelum Nita Aartsen, di panggung yang sama juga tampil Kika Sprangers Quintet dari Belanda yang sedang melakukan tour ke Indonesia.

Pemain drum Kika Springers, Willem Romers mengaku bahwa tampil di Ngayogjazz merupakan pengalaman baru. “Menyenangkan, ini luar biasa bahwa kami bisa tampil disini dan kami belum pernah mendapatkan pengalaman seperti ini sebelumnya,” katanya.

“Tempatnya indah, tata suara bagus, penontonnya bersemangat dan saya dengar festival musik ini gratis. Juga, tempatnya berpindah-pindah di Yogyakarta ini, tentu ini menguntungkan semua pihak khususnya penonton,” lanjutnya.

Sebanyak 40 kelompok musik termasuk komunitas jazz dari berbagai kota di Indonesia yang terdiri ratusan musisi bermain di 6 panggung yang berbeda. Panggung Lurah khusus menyajikan kesenian tradisi berupa gejok lesung, panembromo (kelompok vokal bahasa Jawa) dengan iringan gamelan serta pertunjukan tari-tarian oleh kelompok warga setempat.

Sejumlah kelompok musik Blues dengan beragam aliran tampil di panggung Bayan. Di panggung yang sama juga tampil sejumlah komunitas jazz lokal dan Rodrigo Parejo Quartet dari Spanyol.

Ngayogjazz 2018 mengusung tema ‘Negara Mawa Tata, Jazz MawaCara’ yang merupakan plesetan dari Desa Mowo Cara, Negara Mawa tata yang artinya meskipun negara memiliki aturan tetapi desa juga memiliki adat dan tradisi sendiri.

Budayawan dan Direktur Program Pasca Sarjana Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Dr Budi Subanar mengatakan, Ngayogjazz memiliki makna yang melebihi perhelatan musik. “Komunitas musik jazz itu sendiri menjadi sebuah kekuatan sebagai cara untuk mendinamisasi masyarakat dari perkotaan sampai ke desa,” katanya.

Menurutnya, itu juga sebagai ekpresi yang mempertemukan orang kota dengan orang desa dan bukan sebagai sebuah peristiwa tetapi sebagai proses budaya. “Proses itu sendiri melibatkan berbagai pihak, proses itu sendiri memakan waktu dan keterlibatan untuk melawan tradisi instant dan keduanya menjadi lebih hidup,” ujarnya.

Sekretaris Desa Gilangharjo, Supriyanto mengaku terkejut dengan ribuan penonton yang berbondong-bondong menonton Ngayogjazz 2018. “Ini diatas ekspektasi kami, lautan manusia membuat kami sangat gembira. Masyarakat lokal belum begitu mengenal musik jazz,” katanya.

“Sehingga ketika malam ini kita bisa mendengarkan dan melihat konsernya secara langsung ternyata musik jazz itu indah dan masyarakat kami juga mendapatkan dampak ekonomi baik yang berjualan makanan, kerajinan, batik, parkir dan mereka mendapatkan income,” lanjutnya.

Pergelaran Ngayogjazz berakhir Sabtu tengah malam di panggung utama, panggung Jagatirta dengan permainan jazz oleh legenda jazz Indonesia Idang Rasyidi bersama sejumlah musisi muda. Mereka mengiringi penyanyi senior Margie Segers dan dokter Tompi. Di panggung yang sama sebelumnya tampil Ozma Quintet dari Perancis dan Endah Laras asal Solo yang selalu membawa ukulele.

Selama 12 tahun penyelenggaraan Ngayogjazz, panitia mengaku mengandalkan jaringan yang ada dan pastinya terus mengembangkan jaringan tersebut. Pihak penyelenggara mempunyai jaringan dengan Institut Budaya Perancis atau IFI dan juga menjalin kerjasama dengan Erasmus House, karena itulah jaringan yang sudah ada tersebut akan terus dibangun.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

advertisement





cari eventmu disini
× Chat Me!